SIKLUS AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA TAHAP PENGIKHTISARAN


TAHAP PENCATATAN SIKLUS AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA

Setelah mempelajari modul ini Anda dapat :

1. menjelaskan pengertian kuitansi;
2. menjelaskan pengertian faktur;
3. menjelaskan pengertian nota;
4. menjelaskan pengertian nota debet;
5. menjelaskan pengertian nota kredit; dan
6. menjelaskan analisa bukti pencatatan melalui mekanisme debet/kredit pada perkiraan
harta, utang, modal, pendapatan dan beban.


SUMBER PENCATATAN

Pernahkah Anda belanja ke toko?
Biasanya kalau ingin ada bukti bahwa Anda telah berbelanja, Anda akan meminta
tanda bukti tersebut, baik berupa catatan biasa atau bentuk yang formal atau yang sebenarnya.
Tanda bukti tersebut dipakai sebagai sumber pencatatan yang merupakan dokumen sumber
dalam proses siklus akuntansi.
Kalau digambarkan siklus akuntansi pada tahap pencatatan akuntansi perusahaan jasa
adalah sebagai berikut:
Sumber Pencatatan Jurnal Buku Besar


MACAM-MACAM BUKTI PENCATATAN

Bukti pencatatan ada yang berasal dari transaksi itu sendiri beserta pendukungnya, tetapi
ada juga yang dibuat khusus intern perusahaan.


A. Bukti Transaksi Intern

Bukti transaksi intern adalah bukti transaksi yang khusus dibuat oleh intern dan dibuat
untuk intern perusahaan. Yang termasuk bukti intern adalah sebagai berikut.
1. Bukti Kas Masuk
Bukti kas masuk adalah tanda bukti bahwa perusahaan telah menerima uang secara cash atau secara tunai.

2.Bukti Kas Keluar
Bukti kas keluar adalah tanda bukti bahwa perusahaan telah mengeluarkan uang tunai, seperti pembelian dengan tunai atau pembayaran gaji, pembayaran utang atau pengeluaran-pengeluaran yang lainnya. Untuk lebih memahami, coba Anda perhatikan contoh di bawah ini.

3. Memo
Apa yang dimaksud dengan memo? Memo adalah bukti pencatatan antar bagian atau manager dengan bagian-bagian yang ada di lingkungan perusahaan.

B. Bukti Transaksi Ekstern
Setelah Anda mempelajari bukti transaksi intern barangkali telah memahaminya, mari
kita lanjutkan materi kita yang berhubungan dengan bukti transaksi ekstern.
Bukti transaksi ekstern adalah bukti pencatatan transaksi yang berhubungan dengan
pihak di luar perusahaan. Misalnya kuitansi, faktur, nota kontan, nota debet, nota kredit
dan cek.
Baiklah akan kita bahas apa pengertian dari bukti transaksi ekstern tersebut 

 1. 1. Faktur
Faktur adalah tanda bukti telah terjadi pembelian atau penjualan secara kredit.
Faktur dibuat oleh penjual dan diberikan kepada pihak pembeli. Bagi penjual faktur
yang diterima disebut faktur penjualan. Biasanya faktur dibuat rangkap sesuai dengan
kebutuhan. Lembaran pertama untuk pembeli, lembaran kedua untuk penjual dan
lembaran ketiga untuk arsip.

1.2. Kuitansi
Yang dimaksud dengan kuitansi adalah bukti penerimaan sejumlah uang yang ditanda
tangani oleh penerima uang dan diserahkan kepada yang membayar sejumlah uang
tersebut.
Lembaran kuitansi terdiri dari 2 bagian, bagian sebelah kanan diberikan kepada
pihak yang membayar dan bagian kiri yang tertinggal disebut soice (dibaca sus)
sebagai arsip penerima uang.

1.3. Nota
Apa yang dimaksud dengan nota?
Nota adalah bukti atas pembelian sejumlah barang secara tunai. Nota dibuat oleh
pedagang dan diberikan kepada pembeli. Biasanya nota dibuat rangkap dua, satu
lembar untuk pembeli dan lembaran kedua untuk penjual

1.4. Nota Debet
Nota debet adalah bukti perusahaan telah mendebet perkiraan langganannya
disebabkan karena berbagai hal.
Nota debet dikirimkan oleh perusahaan kepada langganannya karena barang yang
dibeli dikembalikan, bisa disebabkan rusak atau tidak sesuai dengan pesanan dan
penjual setuju barangnya diterima kembali atau harganya dikurangi

1.5. Nota Kredit
Apa yang dimaksud dengan nota kredit?
Nota kredit adalah bukti bahwa perusahaan telah mengkredit perkiraan langganannya
yang disebabkan oleh berbagai hal. Nota kredit dikirimkan oleh perusahaan kepada
langganannya sehubungan barang yang dijual tidak cocok atau rusak, untuk itu penjual
setuju menerima barangnya

1.6. C e k
Apakah Anda sudah pernah mendengar apa yang dimaksud dengan cek? Dan
pernahkah Anda melihat bagaimana bentuknya? Yang dimaksud dengan cek adalah
surat perintah yang dibuat oleh pihak yang mempunyai rekening di Bank, agar Bank
membayar sejumlah uang kepada pihak yang nemanya tercantum dalam cek tersebut.
Pihak-pihak yang berhubungan dalam pengeluaran cek tersebut adalah:
- Pihak penarik, yaitu pihak yang mengeluarkan dan menandatangani cek tersebut.
- Pihak penerima, yaitu pihak yang menerima pembayaran cek tersebut

ANALISA BUKTI TRANSAKSI
Setelah Anda mempelajari bukti transaksi, kita lanjutkan untuk menganalisa bukti transaksi.
Setiap bukti transaksi yang akan dicatat ke dalam jurnal perlu dianalisa atau diteliti terlebih
dahulu. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisa transaksi adalah sebagai berikut:
1. Tentukan perkiraan apa saja yang dipengaruhi oleh transaksi tersebut.
2. Tentukan pengaruh penambahan dan pengurangan terhadap harta, utang, modal,
pendapatan dan beban.
3. Tentukan debet/kredit dari akun yang bersangkutan.
4. Tentukan jumlah yang harus di debet atau di kredit.
Dalam modul 2, Anda telah mempelajari tentang persamaan akuntansi yang menjelaskan
bagaimana pengaruh transaksi terhadap perubahan harta, utang, modal. Hal ini merupakan
penerapan dari buku berpasangan yaitu setiap transaksi yang masuk akan mempengaruhi
terhadap perubahan harta, utang, modal, pendapatan dan beban akan dicatat dengan
mendebet dan mengkredit pada perkiraan dengan jumlah yang sama.
Dari setiap transaksi akan mempengaruhi paling sedikit dua akun/perkiraan, yaitu perkiraan
di debet dan perkiraan di kredit.
CARA MENENTUKAN DEBET / KREDIT PERKIRAAN
Untuk menentukan apakah perkiraan harus di debet atau di kredit, perhatikan bagan/tabel
berikut di bawah ini.

Golongan Perkiraan
Bertambah
Berkurang
Harta
Utang
Modal
Pendapatan
Beban
di Debet
di Kredit
di Kredit
di Kredit
di Debet

di Kredit
di Debet
di Debet
di Debet
di Kredit
JURNAL PENYESUAIAN PERUSAHAAN JASA Penyesuaian-penyesuaian yang dibuat oleh perusahaan jasa setiap akhir periode dilakukan terhadap elemen-elemen sebagai berikut:

1. Piutang Pendapatan

Yang dimaksud dengan piutang pendapatan adalah pendapatan yang sudah diperoleh tetapi masih belum diterima atau belum dicatat dalam rekening-rekening. Oleh karena itu setiap akhir periode harus dibuat penyesuaian untuk mencatat pendapatan itu.

Contoh: PT. MAJU memiliki bunga investasi obligasi yang diterima tiap tanggal 1 Maret dan 1 September. Setiap tanggal pembayaran bunga diterima sejumlah Rp 240.000,00. Pada tanggal 31 Desember 2010 bunga yang sudah merupakan pendapatan dihitung sebagai berikut:

1 September sampai dengan 31 Desember = 4 bulan.
Bunga berjalan: 4/6 * Rp 240.000 = Rp 160.000,00
Jurnal penyesuaian yang dibuat pada tanggal 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa)




2. Utang Biaya (Biaya yang Masih Harus Dibayar)


Utang biaya adalah biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dibayar dan belum dicatat dalam rekening-rekening. Oleh karena itu setiap akhir periode harus dibuat penyesuaian agar biaya-biaya seperti itu dapat dibebankan dalam periode yang bersangkutan.

Contoh: Pada tanggal 31 Desember 2010 masih harus dibayar gaji pegawai sebesar Rp 1.000.000,00.

Jurnal penyesuaian yang harus dibuat pada tanggal 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 1




3. Pendapatan Diterima Di Muka

Yang dimaksud dengan pendapatan diterima di muka adalah penerimaan dari pendapatan tetapi bukan merupakan pendapatan untuk periode tersebut, atau dengan kata lain merupakan pendapatan periode yang akan datang yang diterima dalam periode sekarang. Oleh karena itu penerimaan ini tidak dapat diakui sebagai pendapatan periode sekarang.

Contoh: Pada tanggal 1 Mei 2010 perusahaan menyewakan gudang dengan ongkos sewa 1 tahun adalah Rp 3.600.000,00

Terdapat dua pendekatan dalam mencatat pendapatan diterima di muka, yaitu pendekatan neraca dan pendekatan rugi laba.

(1) Pendekatan Neraca, bila perusahaan menggunakan pendekatan neraca maka perusahaan akan mencatat uang yang diterima sebagai pendapatan diterima di muka (utang) dan akan diakui sebagai pendapatan bila perusahaan telah melakukan pekerjaan yang diminta oleh pelanggan.

Pada tanggal 1 Mei 2010 jurnal yang dibuat oleh perusahaan karena sudah menerima uang sebagai pembayaran di muka adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 2




Pada tanggal 31 Desember 2010 perusahaan akan mencatat ayat jurnal penyesuaian sebesar Rp 2.400.000,00 (8/12 * Rp 3.600.000, sudah boleh diakui sebagai pendapatan) sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 3


(2)Pendekatan Rugi Laba, bila perusahaan menggunakan pendekatan rugi laba maka perusahaan akan langsung mencatat sebagai pendapatan. Namun kembali kepada penjelasan sebelumnya, perusahaan hanya boleh mengakui pendapatan bila perusahaan telah melakukan pekerjaannya atau pelanggan telah mendapatkan manfaat dari perusahaan. Dengan demikian rekening pendapatan harus dikurangi dan diganti menjadi pendapatan diterima di muka.
Pada tanggal 1 Mei 2010 jurnal yang dibuat oleh perusahaan karena sudah menerima uang sebagai pembayaran di muka adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 4




Pada tanggal 31 Desember 2010 perusahaan hanya boleh mengakui pendapatan sebesar Rp 2.400.000,00. Itulah mengapa pendapatan sewa harus disesuaikan atau dikurangi Rp 1.200.000,00, dan dibuat rekening baru bernama pendapatan sewa diterima di muka sebesar Rp 1.200.000,00. Maka ayat jurnal penyesuaian yang harus dibuat adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 5




Pada dasarnya penggunaan metode manapun akan menghasilkan saldo yang sama pada akhir periode (pendapatan diterima di muka sebesar Rp 1.200.000,00 dan pendapatan sewa sebesar Rp 2.400.000,00). Perbedaan antara keduanya hanya terletak pada starting point pencatatan dan pada ayat jurnal penyesuaian.

4. Biaya Dibayar di Muka

Yang dimaksud biaya dibayar di muka adalah biaya-biaya yang sudah dibayar tetapi belum dibebankan sebagai biaya pada periode itu. Biaya dibayar di muka ini sering timbul apabila perusahaan membayar biaya-biaya untuk beberapa periode sekaligus, sehingga dari jumlah pengeluaran tadi sebagian akan menjadi beban periode itu dan sebagian lagi akan dibebankan pada periode mendatang.

Contoh: Pada tanggal 1 April 2010 perusahaan membayar premi asuransi untuk 1 tahun sebesar Rp 12.000.000,00

Terdapat dua pendekatan dalam mencatat biaya dibayar di muka, yaitu pendekatan neraca dan pendekatan laba rugi.

(1)Pendekatan Neraca, bila perusahaan menggunakan pendekatan neraca maka pembayaran premi untuk beberapa periode ke depan akan dicatat sebagai beban dibayar di muka. Pada akhir periode, perusahaan melakukan penyesuaian atau pengakuan beban sebesar manfaat yang telah diperoleh perusahaan.

Pada tanggal 1 April 2010 jurnal yang dibuat perusahaan adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 6



Pada tanggal 31 Desember 2010, total biaya yang harus dijadikan beban adalah sebesar Rp 9.000.000,00 (9 * Rp 1.000.000). Maka ayat jurnal penyesuaian yang dibuat perusahaan adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 7




(2) Pendekatan Rugi Laba
, bila perusahaan menggunakan pendekatan laba rugi maka pembayaran beban untuk beberapa periode ke depan akan langsung dicatat sebagai beban, bukan beban dibayar di muka. Pada akhir periode, perusahaan melakukan penyesuaian terhadap beban yang belum jatuh tempo atau belum dirasakan manfaatnya oleh perusahaan.

Pada tanggal 1 April 2010 jurnal yang dibuat perusahaan adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 8




Pada tanggal 31 Desember 2010, perusahaan hanya boleh mengakui beban asuransi sebesar Rp 9.000.000,00 . Itulah mengapa beban asuransi harus dikurangi sebesar Rp 3.000.000,00. Maka ayat jurnal penyesuaian yang dibuat perusahaan adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 9



Pada dasarnya penggunaan metode manapun akan menghasilkan saldo yang sama pada akhir periode (asuransi dibayar di muka sebesar Rp 3.000.000,00 dan beban asuransi sebesar Rp 9.000.000,00). Perbedaan antara keduanya hanya terletak pada starting point pencatatan dan pada ayat jurnal penyesuaian.
5. Kerugian Piutang
Piutang merupakan kewajiban pihak luar perusahaan kepada perusahaan. Piutang dagang timbul dari penjualan kredit barang dan jasa. Pada umumnya tidak semua piutang akan dapat ditagih, sehingga kerugian yang timbul akan dicatat sebagai kerugian piutang. Sesuai dengan prinsip mengenai penghasilan di mana dinyatakan bahwa semua biaya yang dapat dihubungkan dengan pendapatan harus dibebankan dalam periode di mana pendapatan tadi diakui, maka setiap akhir periode dibuat taksiran jumlah piutang yang kira-kira tidak akan dilunasi.
Contoh: Tanggal 31 Desember 2010 PT MAJU memiliki piutang sebesar Rp 7.000.000,00. Diperkirakan dari jumlah tersebut piutang yang tidak dapat ditagih adalah sebesar Rp 200.000,00.
Terdapat dua metode dalam taksiran kerugian piutang yaitu (1) metode langsung, dan (2) metode tidak langsung.
(1) Metode Langsung, berikut ini adalah ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat taksiran kerugian piutang menggunakan metode langsung:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 10



(2) Metode Tidak Langsung, metode tidak langsung tidak mengurangkan langsung piutang, namun membuat rekening tandingan (contra account) dari piutang yang bernama Cadangan kerugian piutang. Berikut adalah cara penjurnalan untuk mencatat taksiran kerugian piutang menggunakan metode tidak langsung:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 11


6. Penyusutan (Depresiasi)
Yang dimaksud dengan biaya depresiasi adalah alokasi harga perolehan aktiva tetap berwujud yang dibebankan pada suatu periode tertentu. Pembebanan biaya depresiasi ini biasanya dilakukan pada akhir periode. Biaya depresiasi yang dibebankan dihitung dengan cara taksiran, karena jumlahnya tergantung pada tiga faktor yaitu harga perolehan, taksiran umur ekonomis, dan taksiran nilai residu.
Pada akhir periode aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan harus disusutkan karena nilai aktiva tetap yang sesungguhnya pada tahun berjalan dibandingkan dengan nilai aktiva tetap pada tahun pembelian tidaklah sama. Perbedaan ini muncul karena kemampuan semua aktiva tetap (kecuali tanah) dalam menghasilkan pendapatan dan jasa akan semakin menurun dari tahun ke tahun. Penurunan ini terjadi baik secara fisik maupun fungsi. Itulah mengapa nilai aktiva tetap pada neraca harus disesuaikan dengan nilai sesungguhnya, ini dilakukan dengan membuat ayat jurnal penyesuaian.
Besar nilai depresiasi setiap tahunnya dapat ditentukan menggunakan sejumlah metode, antara lain, metode garis lurus, metode tarif tetap atas nilai buku, dan metode jumlah angka tahun. Pada artikel ini hanya akan dibahas satu metode yaitu metode garis lurus karena metode ini paling sederhana dan paling banyak digunakan.
Sebelum menentukan besar nilai depresiasinya setiap tahunnya, perusahaan harus melakukan estimasi nilai residu dan masa manfaat dari aktiva tetap tersebut. Nilai residu adalah perkiraan nilai yang masih tersisa bila masa manfaat aktiva tersebut telah habis. Sementara itu masa manfaat adalah taksiran jangka waktu aktiva tersebut dapat memberikan manfaat bagi perusahaan. Nilai sisa dan masa manfaat ditentukan oleh manajemen. Jadi mungkin saja perusahaan memiliki perbedaan dalam mengestimasi nilai sisa dan masa manfaat untuk aktiva yang sama. Nilai depresiasi setiap tahunnya dihitung dengan cara: harga perolehan dikurangi dengan nilai sisa kemudian dibagi dengan masa manfaat.
Contoh: PT. MAJU memiliki gedung yang harga perolehannya (HP) sebesar Rp 10.000.000,00 ditaksir umur ekonomisnya (UE) 20 tahun dan nilai residu sebesar Rp 500.000,00. maka beban depresiasi yang akan dibebankan setiap tahun adalah:
Pengakuan beban depresiasi dapat dicatat dengan menggunakan dua metode: (1) metode langsung, dan (2) metode tidak langsung.
(1) Bila menggunakan metode langsung maka pembuatan ayat jurnal penyesuaian adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 12


(2) Bila menggunakan metode tidak langsung maka pembuatan ayat jurnal penyesuaian adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 13


7. Biaya Pemakaian Perlengkapan
Perlengkapan adalah bahan-bahan yang dibeli dengan maksud untuk digunakan dalam operasi perusahaan (tidak untuk dijual kembali).
Contoh: Dari jumlah perlengkapan kantor yang dimiliki perusahaan sebesar Rp 4.000.000,00, sebesar Rp 1.250.000,00 merupakan perlengkapan kantor yang belum dipakai
Pada tanggal 31 Desember ayat jurnal penyesuaian yang harus dibuat adalah sebagai berikut:

Pencatatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Perusahaan Jasa) 14




Kertas Kerja
Setiap akhir periode (akhir tahun) perusahaan wajib menyusun laporan keuangan,
sekurang-kurangnya laporan laba-rugi dan neraca. Untuk mengikhtisarkan semua data
akuntansi diperlukan suatu kertas kerja (Worksheet).
Apa itu kertas kerja?
Kertas kerja merupakan suatu lembaran berlajur yang dirancang untuk mengikhtisarkan
semua data akuntansi sehingga memberikan gambaran tentang laba-rugi perusahaan
serta saldo harta, utang dan modal perusahaan.
Mengapa kertas kerja perlu disusun sebelum menyusun laporan keuangan?, karena
kertas kerja mempunyai fungsi sebagai alat bantu mempermudah penyusunan laporan
keuangan. Selain itu kertas kerja berfungsi membantu proses penutupan akun buku
besar.
12
Bentuk Kertas Kerja
Bentuk berikut ini dipakai untuk kertas kerja yang tidak mempunyai penyesuaian (6 kolom).
Bagaimana cara menyusun kertas kerja tanpa ayat penyesuaian? Anda perhatikan
kembali latihan 1 yang sebelumnya, yaitu neraca saldo “Ryan Service”. Berdasarkan
Neraca Saldo tersebut disusun kertas kerja 6 kolom (tanpa ayat penyesuaian) yaitu seperti
berikut.
Dapatkah Anda menjelaskan perbedaan antara kertas kerja dengan penyesuaian dan
kertas kerja tanpa ayat penyesuaian? Jangan khawatir, setelah Anda membaca uraian
berikut Anda akan memahami perbedaan kedua hal tersebut.
“Ryan Service”
Kertas Kerja
Per 31 Desember 1999
(dalam ribuan rupiah)
Menyusun kertas kerja tanpa ayat penyesuaian lebih mudah dan sederhana bila
dibandingkan dengan kertas kerja yang disertai ayat penyesuaian. Karena saldo akun
(Neraca Saldo) telah mencerminkan jumlah yang sebenarnya.
Coba Anda perhatikan kertas kerja di atas, dapat langsung diketahui saldo laba. Dan
juga akan mempermudah pekerjaan dalam menyusun laporan Laba-Rugi dan Neraca.
No. Akun
Neraca Saldo Laba-Rugi Neraca
Debet Kredit Debet Kredit Debet Kredit
111 Kas 1.410,00 - - - 1.410,00 -
112 Piutang Usaha 850,00 - - - 850,00 -
113 Perlengkapan 625,00 - - - 625,00 -
121 Peralatan 7.000,00 7.000,00 -
211 Utang Usaha 2.225,00 2.225,00
311 Modal Tn. Ryan 7.100,00 7.100,00
312 Prive Tn. Ryan 200,00 200,00
411 Pendapatan Jasa 1.500,00 1.500,00
511 Beban Gaji 500,00 500,00
512 Beban Sewa 150,00 150,00
513 Beban Iklan 50,00 50,00
514 Beban Listrik 40,00 40,00
10.825,00 10.825,00
Saldo Laba 760,00 760,00
1.500,00 1.500,00 10.085,00 10.085,00

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © ILMU AKUNTANSI